![]() |
pecel ndeso
|
Dari sepiring nasi pecel, kita belajar kehidupan. Dari sepiring nasi pecel, kita menyadari hakikat diri kita sebagai bangsa. Bahwa bangsa ini adalah bangsa agraris yang sederhana, namun kaya makna
KALAU Wieteke Van Dort dulu punya extended version dari lagu “Geef Mij Maar Nasi Goreng”, mungkin ia akan menambahkan menu nasi pecel dalam lagunya. Karena nasi pecel adalah cerminan bangsa Indonesia yang agraris dan beragam.
Nasi Pecel
adalah abstraksi filosofi tersebut. Dalam sepiring atau sepincuk nasi pecel,
kita menemukan kesederhanaan, keragaman, dan makna jati diri kita. Mulai dari
masyarakat pinggiran, tengah, hingga atas, semua makan nasi pecel. Mulai dari
warung kaki lima, hingga restoran bintang lima, semua menyajikan nasi pecel.
Sebagai
pecinta pecel, saya selalu mencoba menelusuri berbagai tempat untuk mencicipi
nasi pecel lokal. Mengapa demikian? Karena “Not All Nasi Pecel Are Created
Equal”. Nasi pecel tak pernah disajikan sama.
Meski pilar
dasar dari pecel, yaitu sayur dan bumbu pecel, selalu ada, namun jenis sayur
yang dipilih, sambal yang ditaburkan, hingga kondimen dan kerupuknya, tak
pernah sama.
Setiap orang
punya favorit pecelnya masing-masing. Dan perbedaan itu tidak jadi masalah.
Esensi filosofi dari nasi pecel adalah “keserbabolehan”. Tak ada campuran yang
salah, semua bisa ditafsirkan. Dan kita masih bisa menyebutnya, Nasi Pecel.
![]() |
pecel wader
|
Di Yogya,
ada pecel wader yang terkenal. Lokasinya di jalan menuju Bandara Internasional
Adi Sucipto. Kalau kita menuju Bandara pasti tidak akan melewatkan plang nama
warung bu Amat penjual Pecel Wader.
Berbeda
dengan pecel yang biasanya hanya menyajikan sayur dengan bumbu pecel, di sini,
pecel
diperkaya dengan ikan wader. Ini adalah ikan goreng kecil-kecil yang
rasanya sangat renyah dan gurih.
Wader
menjadi ciri khas pecel bu Amat. Kelembutan sayur, segarnya bumbu pecel,
ditambah dengan rasa "crunchy crunchy" dari wader. Hmmm... sungguh
mantab dan lezat.
Di Blitar,
Madiun, dan Kediri, nasi pecel disajikan berbeda lagi. Pecel versi daerah ini
menggunakan bunga honje merah, bunga turi putih, bersama dengan sayur mayur.
Rasa bunganya meninggalkan aroma nan menusuk indah di langit-langit mulut kita.
Masih ditemani lagi dengan rempeyek kacang, lalapan khas pecel seperti biji
lamtoro (petai cina), kemangi, plus irisan dadu ketimun segar…hmmm…..segarnya.
Cita rasanya
juga berbeda. Pecel Madiun terkenal lezat dan pedas, pecel Blitar terkenal
manis, dan pecel Kediri terkenal akan sambal Tumpangnya.
![]() |
pecel madiun
|
Di Solo, ada
Pecel Ndeso (yang juga membuka cabang di Yogya – sebelah Hyatt). Variasinya
lain lagi. Sayuran pecelnya komplet, disajikan dengan tiga macam dressing,
yaitu: sambal kacang yang umum, sambal tumpang yang khas, atau sambal wijen yang
istimewa. Nasinya pun bisa pilih: boleh nasi putih atau nasi dari beras merah.
Kalau ke
Warung Pecel Ndeso, kita akan melihat lauk-pauk tambahan untuk nasi pecel
"ditebar" di atas meja lebar. Ada tempe dan tahu bacem, tempe kemul
(tempe yang digoreng dengan salut tepung), wader goreng, empal dan jeroan
goreng, dan banyak lagi lainnya. Godaan untuk memilih lauk yang menggairahkan
ini sulit ditolak.
Pekan lalu,
tak jauh di depan hotel Orchid Batu, Malang, saya menemukan lagi satu warung
pecel yang lezat. Warung kecil ini milik bu Anna, yang membuka warung sejak
tahun 2000. Kelebihan nasi pecel bu Anna adalah pada kesegaran bumbu pecelnya.
Kalau
biasanya bumbu pecel menggunakan asam jawa, bu Anna justru menggunakan tomat.
Rasa asamnya khas, dan segar. Bumbu ini tak tahan lama, oleh karena itu ia
selalu membuat bumbu pecel baru di setiap piringnya. Di situlah letak rahasia
kesegaran rasa pecel bu Anna. Rasa asamnya diperoleh dari tomat segar.
Soal sayur,
pilihannya juga beda. Nasi Pecel bu Anna menggunakan daun sawi bungkuk dan sawi
asin. Rasanya pahit dan segar. Hmmm lezat. Untuk lauk, taburan srundeng, tahu,
dan ayam goreng menambah lezat nasi pecel bu Anna.
![]() |
pecel malang
|
Tak hanya di
Jawa. Di Bukittinggi, kita mengenal Pecel dengan sebutan Pical. Warung yang
terkenal adalah Pical Sikai di daerah Ngarai Sianok. Pical Sikai mulai
berjualan sejak tahun 1950-an dan tetap memiliki cita rasa yang sama hingga
sekarang.
Apa yang
khas dari Pical ini adalah daun pakis yang digunakannya. Rasanya segar dan
nikmat.
Berbagai
sajian nasi pecel nusantara tersebut menunjukkan betapa keragaman telah menjadi
kekayaan bangsa ini. Keragaman, kesederhanaan, keserbabolehan, dan kemauan
menerima perbedaan, adalah filosofi dari sepiring nasi pecel.
Dari
sepiring nasi pecel, kita belajar kehidupan. Dari sepiring nasi pecel, kita
menyadari hakikat diri
kita sebagai bangsa. Bahwa bangsa ini adalah bangsa
agraris yang sederhana, namun kaya makna.
Oleh
karenanya, dalam membangun bangsa, kiranya kita harus melandasi diri pada
esensi dasar kekuatan bangsa ini, bangsa agragris yang kerakyatan. Selamat
makan nasi pecel....
Sumber: Kompasiana




Tidak ada komentar:
Posting Komentar